Monday, December 16, 2013

Ada ONE dalam Indonesia

*bersihin blog yang berdebu* *ceritanya banyak sarang laba-labanya saking lamanya nggak dikunjungi*

Selamat malam, dunia! (bacanya harus pakai nada lagunya Jikustik yang Selamat Malam Dunia)
Hm, sudah lama nggak menyempatkan waktu buat menulis di blog. Terakhir kali kapan, ya? Padahal tahun sudah hampir berganti loh ini. Maaf ya, blog kesayangankuuuu. Aku terlalu (sok) sibuk ini itu hingga melupakanmu.

Oke, cukup basa-basinya.
Beberapa waktu ini, aku sedang kepikiran negeri tempatku berpijak selama ini. Tempatku dilahirkan dan dibesarkan delapan belas tahun ini. Ya. Indonesia.
Entah apa yang membuatku segini kepikirannya sama Indonesia.

Memangnya, apa sih yang ada di pikiranku mengenai Indonesia?

Begini...

Akhir-akhir ini, aku dilanda sumpek berkepanjangan. Banyak kegiatan di kampus yang mau nggak mau harus aku ikuti. Sebagian ada yang kuikuti dengan ikhlas dan sukarela, sebagian lagi, sorry to say, tidak. Ya, di kampusku ini, kamu akan dipaksa untuk mengikuti, setidaknya, satu kepanitiaan selama tiga hingga empat tahun kamu menuntut ilmu. Entah kepanitiaan sebuah acara, entah suatu organisasi. Pokoknya kepanitiaan. Pokoknya kamu nggak kuliah-pulang. Nggak gabut (baca blogpost sebelum ini). Dan dari sebuah keterpaksaan itu, kamu diharapkan lama-kelamaan akan ikhlas menjalaninya, pure tanpa terpaksa. Kalau aku sih, maaf, nggak bisa. Nggak loh ya, bukan belum.

Di kampusku ini, ada beberapa 'tradisi' yang susaaah banget buat diubah. Mulai dari ospeknya yang tiada henti, 'pemaksaan' yang aku ceritakan barusan, sampai rapat dan flooring ini itu yang bisa sampai subuh. Bayangin.
Di prodiku, ada beberapa teman yang ingin membawa perubahan dan berniat buat mengubah 'tradisi' yang susah diubah tadi. Mereka bukannya nggak sadar dan nggak tahu kalau tradisi itu sulit untuk diubah, tapi mereka berusaha mencoba. Yaaah, kali aja ternyata bisa dihentikan, diganti yang lebih baik dan bermutu, atau bahkan dihilangkan. :p
Tapi, saat mereka mulai melakukan perubahan itu, ada beberapa hambatan yang menemui di tengah jalan. Kebanyakan, para 'leluhur' nggak mau tradisi itu tadi diubah. Alasannya sih, belum tentu perubahan yang dicanangkan teman-temanku ini memang mengarah ke arah yang lebih baik. Bisa saja perubahan ini malah lebih buruk.

Ah, kalau aku bilang sih, para 'leluhur' ini nggak optimistis orangnya. Apa salahnya mencoba sesuatu yang baru? Walaupun bisa dibilang semua ini gambling, setidaknya kita sudah mencoba, kan? Gambling pun nggak melulu hasilnya buruk. Peluang hasil baik dan buruknya kan 50:50.

Nah, dari kampusku yang suka 'maksa' dan beberapa tradisi minus yang alot diubah, apa hubungannya sama Indonesia?

Mari kita sinkronkan bersama.
Di kampus, oknum-oknum yang nggak mau dan nggak setuju adanya perubahan adalah para leluhur, tetua, yang memang udah lebih dulu merasakan apa yang terjadi di lingkungan kampus. Di Indonesia, oknum-oknum yang nggak mau dan nggak setuju adanya perubahan ya sama, para tetua yang udah punya jabatan tinggi dan lumayan penting di negara kita, yang memang juga udah lebih dulu merasakan apa yang terjadi di negara kita. Dengan kata lain, beliau-beliau ini merasa sudah yang paling ngerti.

Indonesia, dalam pandanganku, sudah sangat menakjubkan.
Dari segi alam, negeri kita punya banyak banget lokasi wisata yang indahnya, subhanallah. Pantai? Gunung? Peninggalan bersejarah? Mau cari di mana deh, di setiap sudut provinsi pasti ada.
Dari segi keramahan penduduknya, wisatawan asing mana yang nggak dibikin tersenyum tiap ketemu orang pribumi saat mereka melancong ke mari? Tanya jalan, ditunjukkin, dianterin bahkan. Minta fotoin, eh malah kita yang pengin foto sama tuh bule bule. Ramah abis, bukan?

Hanya satu yang perlu dibenahi; mindset orang-orangnya.
Mengapa masih banyak orang Indonesia yang menyalahkan pemerintah atas kesalahan mereka sendiri?
Saat banjir, salahkan saja pemerintahnya!
Saat banjir, salahkan saja walikotanya!
Saat banjir, salahkan saja gubernurnya!
Saat macet, salahkan saja program pemerintah yang tak kunjung terlaksana!
Saat macet, salahkan saja para pejabat dengan mobil mewah menterengnya!
Saat macet, salahkan saja polisi lalu lintas yang tak bersegera mengatasinya!

Mengapa masih banyak orang Indonesia yang membela yang berduit, bukannya membela yang benar?
Si Madun terkena kasus tipikor, mari kita tutupi segera karena saluran televisi ini dia yang punya!
Si Madun masih terkait masalah bencana alam yang tidak disebabkan oleh alam, mari kita alihkan perhatian dengan membuat kampanye iklan semenarik mungkin!

Mengapa masih banyak orang Indonesia yang berpangku tangan, tidak pedulikan sesama, dan malah melempar kewajibannya pada orang lain?
Anak-anak di daerah X sedang mengalami krisis pendidikan, biarlah si Budi saja yang tangani, mari kita bersembunyi hingga tiada yang menyadari!
Sampah di kampung kita ini berserakan di mana-mana, marilah kita demo pemerintah karena tak becus mengatasi rakyat dan negerinya!


HELLOOOOO, ELO TINGGALNYA DI MANA DEH? NEGERI ANTAH BERANTAH? (ini luapan perasaanku terhadap kebanyakan orang Indonesia)

OKE, KALAU ITU MAU ELO, GUE BAKALAN NGUBAH INDONESIA INI JADI LEBIH BAIK! (ini apa yang kira-kira terlintas di benak beberapa orang yang telah berupaya membawa negeri kita ke arah yang jauh, jauh lebih baik)

Lalu, muncullah sosok-sosok sang pembawa perubahan...
Bapak Joko Widodo, dengan segitu banyak perubahan untuk Jakarta.
Ibu Tri Risma Harini, dengan segitu banyak perubahan untuk Surabaya.
Bapak Dahlan Iskan, dengan segitu banyak perubahan untuk sarana dan prasarana yang kita nikmati bersama tanpa sadar.
Bapak Anies Baswedan, dengan segitu banyak perubahan untuk dunia pendidikan kita.
Bapak Gita Wirjawan, dengan segitu banyak perubahan untuk pembangunan dan perekonomian negeri kita.
(saat aku ngetik bagian ini, aku mengucap alhamdulillah, karena Indonesia sudah menemukan sosok-sosok ini)

Pernah nyadarin nggak sih, kalau hal-hal kecil yang beliau-beliau lakuin, dampaknya nggak main-main?
Tapi, ya emang dasar karakteristiknya orang Indonesia, mau kita ngelakuin hal buruk kek, hal baik kek, pasti dikomentarin. Pasti dicibir. Pasti dinyinyirin.
HUFT BANGEUD.

Indonesia dan kampusku ini, sama-sama miris. Saat ada yang memulai perubahan, cibiran dan hinaan rasanya tak henti dilontarkan untuk mereka. Orang-orang yang membawa perubahan itu, pasti pernah merasa gagal, merasa nggak dihargai, merasa perjuangan mereka sia-sia. Tapi, aku sangat yakin, masih ada beberapa dari mereka yang semangatnya untuk memperbaiki apa yang salah selama ini masih membara. Dan aku, di sini, nggak pengin hanya berdiam diri melihat mereka berjuang dari kejauhan tanpa melakukan apa-apa. Aku dengan usahaku, juga ingin membawa dunia ini, khususnya Indonesia, ke arah yang sudah seharusnya; baik.

Sebenarnya, setiap dari kita pasti pernah punya kesadaran akan apa yang salah dan apa yang memang seharusnya kita benahi. Tapi mengapa kita masih ragu, masih belum memantapkan langkah demi satu perubahan kecil yang bermakna besar? Hm?

Sekarang, mari kita kembali membicarakan kampusku.
Beberapa kawan yang menginginkan perubahan, memang sudah dengan gamblang menyampaikan bahwa mereka ingin tradisi ini dihentikan. Kudengar, para tetua juga sebetulnya menginginkan hal yang sama. NAMUN, sayangnya, mereka hanya berucap saja. Tidak ada aksi. Dan yang lebih menyakitkan lagi, mereka tidak mendukung adanya perubahan itu sendiri. Padahal kan katanya pengin berubah...

Coba kita tengok Indonesia.
Dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, siapa sih yang nggak pengin negerinya jadi lebih maju, lebih baik, lebih oke dari yang sekarang? Semuanya pasti pengin, dong. Tapi ya itu tadi, sama seperti kondisi kampusku. Why mostly Indonesians do not support the changes itself? Kenapa saat ada yang membawa perubahan baik malah mbok nyinyirin dan bukannya ngebantuin biar Indonesia cepet pulihnya. Padahal kan katanya pengin berubah...

Sudahlah, kita ini kan bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Berbangsa satu, bangsa Indonesia. Berbahasa satu, bahasa Indonesia. Ber-bhineka tunggal ika, walaupun berbeda-beda namun tetap satu jua. Mengapalah kita tak bisa menyatukan ritme dan suara demi terbentuknya Indonesia yang lebih baik di masa mendatang? Mengapalah kita tak bisa bersatu padu, gotong royong, membangun Indonesia yang lebih baik di masa mendatang? Mengapalah kita tak bisa menyatukan harapan-harapan baik untuk Indonesia menjadi sebuah aksi nyata, yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi kita sendiri?

Karena ada ONE (satu) dalam Indonesia, jadi mari bersatu untuk negeri yang lebih baik. :)




PS:
Kenapa kalimat terakhir terdengar seperti sebuah kalimat iklan kampanye, ya. :|

No comments:

Post a Comment

Thanks for stopping by. You seem nice. You are welcome to leave any comments here.